Thursday, February 21, 2013

KISAH NABI NUH



Penyembahan Berhala Dan Tuhan-Tuhan

Nuh as. Adalah  rasul pertama yang diutus Allah dengan risalah ketuhanan kepada kaumnya. Ketika mereka berubah menyembah berhala-berhala dan terus menerus dalam kesesatan dan kekafiran.
Al-Qur’an telah menyebut nama berhala yang dulunyadisembah oleh kaum Nuh dengan perkataan yang dilontarkan oleh pemuka-pemuka mereka:
“Mereka berkata : Janganlah kamu kamu itnggalkan tuhan-tuhan kamu dan janganlah kamu tinggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, Dan Nasr (nama-nama berhala). (Q.S. Nuh 23)
Kaum Nuh menyembah uthan lain sebagaimana ditunjukkan dalam ayat tersebut dan ada yang mengatakan bintang-bintang yang berpindah. Oleh karena bintang ini tampak diwaktu malam dan lenyap diwaktu siang, maka mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka.
Nuh telah hidup bersama kaumnya dalam waktu yang lama mengajak mereka menyembah Allah.
Allah Swt. berfirman:
“Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka tinggallah ia bersama mereka selama 950 tahun.” (Q.S. Al-Ankabut: 14)
Akan tetapi masa ini tidaklah menghasilkan buahnya pada mereka, maka tidaklah beriman dengan risalahnya kecuali sedikit saja diantara mereka, dan pada waktu itu ada bapak yang menarik hati anaknya yang mulai berakal agar tidak mengikuti Nuh selama hidupnya.
Oleh karena itu mereka saling mewarisi pembangkangan dengan terus melakukan syirik dan durhaka.
 
Ajakan Untuk Menyembah Allah

Nuh berkata kepada kaumnya:” Sesungguhnya aku peringatkan kamu akan siksaan Allah dan kejelaskan  kepadamu jalan keselamatan, maka sembahlah Allah saja dan jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun, karena aku kuatir apabila kamu menyembah selain Dia  atau menyekutukan yang lain dengan-Nya, maka dia akan menyiksa kamu pada hari kiamat  dengan siksa yang pedih.”(Q.A Hud 25-26)
Sebagaimana Nuh berkata kepada mereka:” Sesungguhnya jika kamu taat kepada Allah dan menjauhi perbuatan-perbuatan buruk, niscaya Allah mengampuni dosa-dosa kamu yang lampau dan memberikan kesempatan kepada kamu serta memberi kenikmatan di dunia ini, hingga masa yang lama yang ditetapkan Allah bagi berakhirnya ajal-ajalmua. Tetapi apabila kamu durhaka kepada tuhan kamu, maka sesungguhnya Dia tidak akan meberi kelonggaran kepada kamu, bahkan Ia akan menimpakan siksaan bagi kamu dan akan datang kepadamu secara mendadak dari tempat yang tidak kamu duga.” (Q.S Nuh 2-4)

Penbangkangan Yang Membinasakan

Ucapan-ucapan Nuh tidaklah menimbulkan pengaruh dalam jiwa-jiwa kaumnya, bahkan mereka menjawab dengan pembangkangan: ´Hai Nuh, engkau telah memusuhi kami dan terus menerus melakukan hal itu. Maka jika engkau berkata benar dalamdakwahmu, berilah apa yang engkau ancamkankan kepada kami berupa siksaan.”
Nuh menjawab tantangan mereka seraya berkata:” Urusan itu terserah kepada Allah, Dialah yang menimpakan siksaan atas dirimu jika dikehendaki-Nya, tidak ada yang bisa menghalangi-Nya”
Sebagaimana nasihat yang kuberikan kepadamu tidak akan bermanfaat kepadamu, walaupun aku menghendaki kebaikan bagi kamu dengan nasihat itu—apbila Allah menghendaki kamu dalam kesesatan dengan sebab kerusakan jiwamu yang menolak kebenaran—
Maka Allah Swt. adalah Tuhan kamu dan kepada-Nya kamu kembali pada hari kiamat dan akan membalas perbuatan-perbuatanmu.” (Q.S Hud 32-34)

Keluhan Kepada Allah

Setelah Nuh merasa kesal kepada kaumnya, ia pun berlindaung kepada Tuhannya memohon pertolongan atas pembangkangan kaumnya, maka ia berkata: “ Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah mengajak kaumku untuk beriman kepada-Mu dan meninggalkan penyembahan berhala. Aku sangat mengharapkan keimanan, maka tidaklah kulewatkan setiap kesempatan, melainkan kuajak mereka malam dan siang. Ternyata harapanku sangat sia-sia, mereka malah makin membangkang dan durhaka.
Setiap kali ku ajak mereka untuk menyembah-Mu supaya engkau bisa memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, maka mereka pun menutup telinga dengan ujung jarinya karena tidak suka mendengarkan ajakanku. Mereka sangat berlebih-lebihan dalam membangkang sampai menutup wajah dengan baju supaya tidak melihataku dan tidak mendengar dakwah yang kuberikan.
Demikanlah mereka itu terus menjauhi dakwahku dengan rasa sombong, dengan tidak mau mengikuti dan memenuhi ajakanku.
Wahai tuahanku, aku telah mengajak mereka untuk menyembah-Mu berulang kali dengan berbagai cara. Kadang-kadang aku mengajak secara terang-terangan dalam kelompok-kelompok mereka, dan kadang-kadang sendirian terhadap seorang diantara mereka.
Dan bekata kepada mereka :” Mintalah ampun kepda Tuhanmu dan bertobatlah dari kekafiran dan melakukan maksiat, sesungguhnya Dia menerima tobat hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan serta memberi ganjaran atas tobat dan istigfarmu. Maka Dia akan menurunkan bagi kamu hujan yang deras, yang kan menyuburkan tanahmu sesudah kekeringan, memberi rezeki kepadamu berupa harta benda untuk kamu nikmati, dan mengaruniai anak-anak yang akn membantu kamu. Kebun-kebun yang lebat akan memberi kesejahteraan kepada hidupmu sungai-suangi akan menjamin pengairan bagi tanahmu.” (Q.S Nuh 5-12)
Dakwa Nuh tidaklah membawa pengaruh kepada kaumnya kecuali hanya sedikit sebagaiman dijelaskan oleh Al-Qur’an. “ Tidaklah beriman kepada Nuh kecuali sedikit”
Adapun sebagian dari mereka telah jemu dengan dakwahnya dan mendustakannya serta menganggap nya sebagai orang gila, dan mereka menimbulkan berbagai gangguan dan ancaman terhadap Nuh untuk menghalangi dakwahnya.
Allah Swt. berfirman :
“ Sebelum mereka kaum Nuh mendustakannya, yaitu mereka mendustakan hamba kami(Nuh) seraya berkata: Ia orang gila dan iapun dibentak (supaya menghentikan dakwahnya).”(Q.S. Al-Qomar 9)
Sebagaiman mereka mengancamnya dengan rajam:
“ mereka berkata apabila kamu tidak berhenti,hai Nuh, maka niscaya engkau akan dirajam.”
Akan tetapi Nuh tidak peduli dengan ancaman tersebut dan iameneruskan dakwahnya pantang mundursambil bertawakal kepada AllahSwt.

Kutukan Terhadap Orang-Orang Yang Mendustakan  

Setelah mencurahkan segala tenaga untuk memberi hidayah kepada kaumnya dan setela turtutup segala jalan untuk memperbaiki mereka, maka pada waktu itu iapun berkindaung kepada Tuahnnya dengan mengeluh atas perilaku kaumnya.
allahSwt. Berfirman:
“ Nuh berkata; Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku mendustakanku. Maka berilah kau jalan keluar antara aku dan mereka, dan selamatakanlah aku dan orang-orang yang bersamaku, yaitu orang-orang yang beriman.” (Q.S As-Syu’ara:117-118)
Sebagaiman ia mendoakan kaumnya agar binasa:
“ Wahai Tuhanku, janganlah engkau membiarkan diatas bumi ini orang-orang kafir mendiami rumah-rumah. Sesungguhnya jika engkau biarkan , maka mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan tidaklah mereka meninggalkan keturunan kecuali orang-orang yang fajir dan kafir.”(Q.S.Nuh 26-27)
Nuh berdo’a kepada tuhannya agar tidak membiarkan diatas bumi ini seorang pun dari orang-orang kafir itu, karena jika AllahSwt. Membiarkan orang-orang kafir itu terus menerus dalam kesesatan mereka, maka mereka akan menyesatkan orang lain darai kebenaran dan menyebarkan disa-dosa mereka kepada anak cucu mereka dengan warisan, maka tidaklah mereka meninggalkan keturunan, kecuali orang-orang yang serupa dengan mereka dalam kekafirandan perbuatan dosa.

Pembuatan Kapal Keselamatan

Allah mengabulkan do’a Nuh  dan sebaelumnya membinasakan kaumnya yang mendustakannya. Allah Swt. menyiapkan baginya dan kaum yang beriman kepada risalah –Nya alat-alat untuk menyelamatkan diri.
Maka Allah Swt. mewahyukan kepadanya, tidak seorangpun beriman kecuali siapa-siapa yang mengikutinya dan menyuruhnya agar tidak merasa sedih dengan sebab pendustaan orang-orang kafir terhdapnya, karena Allah akn menenggelamkan mereka semua.
Allah menyuruh Nuh untuk membuat kapal keselamatan dan memberitahukan kepaddanya, bahwa  Allah akan mengawasi dan memeliharanya, serta melarangnya mendo’akan orang-orang kafir dengan keselamatan setelah mereka tetap berada dalam kekafiran mereka.
Nuh mulai membuat kapal dan ia pun ikut sebagai tukang kayu, sehingga diejek oleh orang-orang kafir lantaran pekerjaannya itu.
Menghadapi ejekan mereka Nuh berkata :” Jika sekarang kamu mengejek saya dan orang-orang beriman yang bersamaku, maka sebentar lagi kami akan mengejek kalian, karena aku tahu siksaan dan kebinasaan yang bakal menimpa kalian, sehingga aku tahu siapa yang akan ditimpa siksaan yang menghinakannya didunia, sebagaimana siksaan yang kekal akan menipanya di akhirat.”(Q.S. Hud: 36-39)

Permulaan Air Bah

Nabi Nuh as. Menyelesaikan pembuatan kapalnya dan tampak tanda-tanda permulaan sisaan, yaitu memancarnya air dari bumi. Maka Allah menyuruh Nabi Nuh mengumpulkan setiap jenis hewan yang hidup sepasang-sepasang,jantan dan betina untuk dibawa bersamanya supaya hidup setelah musnahnya mahluk hidup dan bisa berkembang biak kembali di bumi.
Demikian Allah mnyuruh Nuh membawanya di dalam kapal keluarga dan para kerabatnya dengan perkecualian dua orang diantara mereka, lantaran kafir kepada Allah. Mereka adalah salah seorang istri dan anaknya.
Nuh menyiapkan kapalnya dan berkata kepada orang-orang yang beriman:”Naiklah didalamnya dengan menyebut nama Allah ta’ala di waktu berlayar dan berlabuh, karena kapal itu bukanlah sebab terjadinya keselamatan, akan tetapi wajiblah atas mereka menuju kepada Allah, karena Dialah yang menjalankan dan menghentikan kapal itu.’
Juga Nbi Nuh As. Mengingatkan mereka, bahwa Allah maha luas ampunan-Nya dan Maha penyayang terhadap hamba-hamba-Nyayang beriman, sehingga diselamatkan dari kebinasaan. Kemudian berjalanlah kapal itu setelah air meluapdi tengah-tengah gelombang besar yang tingginya bagaikan gunung.
Al-Qur’an mengabarkan kepada kita bahw Nuh berdo’a kepada Tuhannya agar membalas kaumnya, sehingga Allah mengabulkan do’anya lalu menurunkan hujan yang derasdari langit yang tidak pernah di alami oleh bumi sebelumya, dan menyuruh bumi supaya memancarkan air dari segenap penjurunya.
Maka berkumpulah air dari langit dan bumi,sehingga timbul air bah yang hebat yang di takdirkan Allahdengan do’a Nabi-Nya untuk membinasakan orang-orang kafir,sambil menyiapkan jalan keselamatan bagi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya di atas kapal yang berjalan dengan perlindungan Allah dan pemeliharaan-Nya.

Tenggelamnya Putra Nabi Nuh

Nuh teringat akan putranya. Sebagai seorang bapak yang sayang terhadap anaknya, Nuh memanggilnya untuk naik keatas kapal bersama keluarganya yang lain, sedangkan putranya itu tetap dalam kekafiran.
Maka Nuh berkata: “ Hai anakku, naiklah engkau bersama kami supay engkau selamat dari kehanyutan dan janganlah engkau masuk kedalam golongan orang-orang kafir yang mengingkari agama Allah.”
Akan tetapi putranya tidak menjawab seruan Allah dan tetap durhaka dan menduga apa yang terjadi itu merupakan peritiwa-peristiwa alam biasa dan berharap akan bisa selamat tanpa naik keatas kapal.
Maka ia pun berkata kepada ayahnya: “ Aku akan berlindung ke gunung  yang tidak bisa dicapai oleh air,sehingga aku tidak tenggelam.”
Ayanhnya menjawab: “ tidak ada satu kekuatanpun yang bisa mencegah tenggelamnya yang sudah ditakdirkan Allah bahwa ia bakal tenggelam sebagai balasan bagi orang-orang kafir.”
Putranya tetap menolak dan menyangka bahwa usahanya untuk mencapai puncak gunung bisa menyelamatkanya dari tenggelam, akan tetapi kekuatan air dan tingginya gelombang telah menghayutkan putra yang sesat dan kafir itu.

Nabi Nuh Memohon Keselamatan Putranya

Timbul rasa kasihan dalam hati Nuh terhadap putranya, maka ia pun memohan kepada Tuhannya dengan khusyuk agar sudi menyelamatkan putranya. Bukankah Tuhannya telah berjanji sebelumnya akan menyelamatkannya bersama keluarganya?
Sedangkan putranya adalah termasuk keluarganya dan Allah sekaku menepati janji-Nya dan Sia adalah hakim yang maha adil.
Maka Allah menjawab permohonan Nuh, bahwa putranya yang kafir itu bukanlah termasuk keluarganyayang dijanjikan diselamatkan. Karena ia tidak beriman dan tetap dalam kekafiran. Dan is telah melakukan perbuatan –perbuatan yang tidak baik,Allah melarang Nuh untuk memohon sesuatu, kecuali bilamana ia merasa yakin bahwa hal itu benar dan tepat, sebagaimana Allah melarang agar tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbuat aniayadan memohon keringan bagi hukuman Allah, sekalipun yang berbuat itu putranya dan beranggap bahwa kasih sayang bapak dapat mengalahkan hukum Allah.
Nuh menyesal atas perkataannya dan mengakui kesalahannyaseraya berkata: “ sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu wahai Tuhanku agar tidak memohon kepada-Mu sejak sekarang apa yang tidak engkau ridhai,dan jika engkau tidak mengaruniai aku dengan ampunan-Mu dan menyayangi aku dengan keutamaan-Mu, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.”

Berhentinya Air Bah

Ketika orang kafir itu binasa lantaran air bah, Allah menyuruh bumi untuk menghisap airnya dan menyuruh langit untuk berhenti menurunkan hujan. Maka surutlah air dari bumi setelah Allah memutuskan kebinasaan bagi orang-orang yang berbuat aniaya, dan kapalnya terlempar di gunung juudy.
Ketika itu diserukan kepada orang kafir yang binasa dengan kekuasaan ilahi:” jauhlah orang-orang yang berbuat aniaya ini dari rahmat Allah dan ampunan-Nya”(Q.S. Hud:44)

Turun Dari Kapal

Setelah kapal terdampar dan bumi menelan air bah, Allah menyuruh Nuh turun dari kapal ke bumi. Maka turunlah ia ke bumi maushil dengan diliputi oleh berkah dari Allah bersama orang-orang yang beriman dan anak cucunya yang bakal menjadi orang-orang yang beriman.
Sebagian mereka akan menjadi umat yang menikmati dunia dan kebaikan-kebaikannya, akan tetapi mereka tidak akan mendapat berkah dari Allah, karena mereka akan menyeleweng dari jalan kebenaran dan disesatkan oleh setan, hingga menyebabkan mereka ditimpa sksaan Allah didunia dan di akhirat.
Allah Swt. berfirman:
“dikatakan kepada Nuh : hai Nuh, turunlah dengan keselamata dari kami dan berkah atasmu dan umat-umat yang bersamamu dan umat-umat yang kami beri kenikmatan kepada mereka, kemudian mereka itu akan ditimpa siksa yang pedih dari kami.” (Q.S. Hud;48).

No comments:

Post a Comment

Post a Comment